Shirah Nabawi 7 : Dakwah Secara Terang-Terangan

Dakwah secara Terang-terangan

Ibnu Hisyam berkata: “Kemudian secara berturut-turut manusia, wanita dan lelaki, memeluk Islam, sehingga berita Islam tersiar di Mekah dan menjadi bahan pembicaraan orang. Lalu Allah memerintahkan Rasul-Nya menyampaikan Islam dan mengajak orang kepadanya secara terang-terangan, setelah selama tiga tahun Rasulullah saw melakukan dakwah secara sembunyi, kemudian Allah berfirman kepadanya :

“Maka siarkanlah apa yang diperintahkan kepadamu, dan janganlah kamu pedulikan orang musyrik.“ QS Al-Hijr : 94


“Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.“ QS Asy-Syu’ara : 214-215


“Dan katakanlah “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.“ QS al-Hijr : 89

Pada waktu itu pula Rasulullah saw segera melaksanakan perintah Allah. Kemudian menyambut firman Allah: “Maka siarkanlah apa yang diperintahkan kepadamu dan janganlah kamu pedulikan orang-orang yang musyrik.“

Dengan pergi ke atas bukit Shafa lalu memanggil; “Wahai Bani Fihr, wahai Bani ‘Adi,“

sehingga mereka berkumpul dan orang yang tidak bisa hadir mengirimkan orang untuk melihat apa yang terjadi.

Maka Nabi saw berkata: “Bagaimanakah pendapatmu jika aku kabarkan bahwa di belakang gunung ini ada sepasukan kuda musuh yang datang akan menyerangmu, apakah kamu mempercayaiku ?“

Jawab mereka: “Ya, kami belum pernah melihat kamu berdusta.“

Kata Nabi saw: “Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan kepada kalian dari siksa yang pedih.“

Kemudian Abu Lahab memprotes, “Sungguh celaka kamu sepanjang hari, hanya untuk inikah kamu mengumpulkan kami.“

Lalu turunlah firman Allah :

“Binasalah kedua belah tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya dia akan binasa.”

Kemudian Rasulullah saw turun dan melaksanakan firman Allah, “Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat,“.

Dengan mengumpulkan semua keluarga dan kerabatnya lalu berkata kepada mereka; “Wahai Bani Ka’b bin Lu’au, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Bani Murrah bin Ka’ab , selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Bani Abdi Syams, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Bani Abdul Muththalib , selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Fatimah, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Sesungguhnya, aku tidak akan dapat membela kalian di hadapan Allah, selain bahwa kalian mempunyai tali kekeluargaan yang akan aku sambung dengan hubungannya.”

Dakwah Nabi saw , secara terang-terangan ini ditentang dan ditolak oleh bangsa Quraisy, dengan alasan bahwa mereka tidak dapat meninggalkan agama yang telah mereka warisi dari nenek moyang mereka, dan sudah menjadi bagian dari tradisi kehidupan mereka. Pada saat itulah Rasulullah saw mengingatkan mereka akan perlunya membebaskan pikiran dan akal mereka dari belenggu taqlid. Selanjutnya dijelaskan oleh Nabis aw bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah itu tidak dapat memberi faedah atau bahaya sama sekali. Dan bahwa turun-temurun nenek moyang mereka dalam menyembah tuhan-tuhan itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mengikuti mereka secara taqlid buta.

Firman Allah menggambarkan mereka :

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,“ mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.“ (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui suatu pun dan tidak mendapat petunjuk?“ QS al-Baqarah : 170

Ketika Nabi saw mencela tuhan-tuhan mereka, membodohkan mimpi-mimpi mereka, dan mengecam tindakan taqlid buta kepada nenek moyang mereka dalam menyembah berhala, mereka menentangnya dan sepakat untuk memusuhinya, kecuali pamannya Abu Tahlib yang membelanya.

[Disalin dari buku Sirah Nabawiyah karangan Dr. Muhammad Sa`id Ramadhan Al Buthy, alih bahasa (penerjemah): Aunur Rafiq Shaleh, terbitan Robbani Press]

0 Response to "Shirah Nabawi 7 : Dakwah Secara Terang-Terangan"

Poskan Komentar